Pernikahan Sederhana…

By admin On August 4th, 2008

Pernikahan merupakan ibadah yang mulia dan sunnah yang menyempurnakan ibadah kita. Pernikahan merupakan sebuah penyatuan dua insan manusia, laki-perempuan…dan juga keluarga dari kedua insan tersebut. Pernikahan umumnya dirayakan dalam sebuah pesta perkawinan…dan pesta perkawinan yang mengundang banyak tamu akan berkorelasi dengan biaya pesta perkawinan.

Apakah pesta perkawinan itu wajib? saya rasa tidak, yang wajib adalah pernikahannya khan! Namun budaya istiadat kita sudah membentuk pemahaman yang berbeda, tidak lengkap sebuah pernikahan tanpa pesta perkawinan. Dan sekali lagi uang yang diperlukan untuk biaya resepsi tersebut tidaklah murah, berlebihan dan mungkin berhamburan…kenapa? mungkin salah satunya, ‘kehebohan’ sebuah pesta perkawinan relevan dengan kekayaan dan strata sosial sebuah keluarga…

Kalau dirinci dengan asumsi jumlah undangan, biaya hidangan makanan…500 orang x 10 s/d 25 ribu, biaya sewa gedung 1jt - 10jt, biaya dekorasi 1 - 10 jt, biaya pakaian pengantin dan panitianya, biaya perias, biaya suvenir, biaya cetak undangan, biaya lain-lain…dan kalau dilaksanakan di kedua keluarga alias 2x pesta perkawinan, so…kalo digandakan 2 ..bisa 50 - 200 juta kali ya? seharga mobil? rumah? atau sebidang tanah?

Rasanya biaya tersebut cukup atau bahkan sangat besar saya…namun saya heran jika sampai ada yang menjual aset hartanya seperti tanah/sawah, rumah, dan mobil…artinya pesta tersebut menjadi beban walaupun masih cadangan kekayaan…alangkah baiknya jika uang tersebut diberikan sebagai modal hidup untuk pengantinnya?he3x…

Ya, begitulah kenyataan kehidupan kita…kalau tidak ada pesta perkawinan…akan muncul dugaan-dugaan yang kurang baik…pelit lah, miskin lah, dll…jangan khawatir…penilaian lingkungan sosial kita bukanlah ukuran baik buruknya keluarga kita khan?

Mari kita ramaikan pernikahan yang sesederhana mungkin…cukup dengan ijab nikah dan tamu yang ingin mengucapkan selamat…silakan datang pada saat ijab nikah…hidangan snack dan air rasanya cukup untuk menghormati tamu yang datang…tidaklah berkurang makna sebuah pernikahan dengan perayaan yang sederhana…justru akan menimbulkan kesan yang berbeda…

wassalam,

Sekapur sirih…

By admin On May 27th, 2008
Sekapur sirih merupakan istilah kata pembuka atau kata sambutan dalam suatu acara. Namun ‘Sekapur sirih’ memiliki makna yang lain dalam lintasan hidupku. Kapur, Sirih, dan pinang adalah bahan utama dari ‘camilan’ yang sangat digemari oleh nini [nenek] ku di Banjarmasin dan Amuntai. Aktivitas ‘nyamil’ ini dikenal dengan nama “Menginang”. Saat itu pernah kucoba rasanya, wihhh…pahit banget. Entah apa yang membuat mereka ‘doyan’ dengan camilan tersebut. Namun aku sangat senang bila disuruh meramu kapur sirih tersebut. Mau nyoba?
Bahan2x:

  • 1-2 lembar sirih
  • Kapur sirih
  • Pinang (dihaluskan)
  • Gambir (dihaluskan)

Cara membuat:

Olesi permukaan atas daun sirih dengan kapur sisir sampai rata. Taburkan pinang yang sudah dihaluskan di bagian tengah daun sirih, disertai dengan gambir yang juga telah dihaluskan. Gulung/lipat daun sirih. Camilan siap dikunyah dan dinikmati.

Apa khasiatnya? Nah itu dia yang ingin aku ketahui. Sejauh ini beragam jawaban yang aku ketahui. Namun yang pasti semuanya dipercayai tidak mengganggu kesehatan selama bahannya dicuci dengan baik dan daun sirih masih segar. Nini (nenek)2x ku, belum mengenal sikat gigi dan pasta gigi, mereka menginang setiap hari dan giginya bersih, putih dan mengkilap…nggak kalah sama iklan pasta gigi. Mungkin karena menkonsumsi camilan/kudapan ini ya?